Mengintip Kilas Sejarah PBA-Dalam Acara Majelis Ta’aruf

Mengintip Kilas Sejarah PBA

Kemilau sinar mentari mulai menyinari bangunan – bangunan hijau Institut Pesantren KH. Abdul Chalim, awan – awan putih bersih mulai menutupi punjak gunung Arjuna dan Welirang yang berdiri kokoh bagai benteng, sebagai bukti tanda cinta dan kasih dari sang penguasa jagad raya. Pepohonan sekitar kampus bergoyang dengan syahdunya karena ditiup angin sepoi penuh keteduhan, suara santri dan santriwati yang lagi mengaji kitab gundul menambah hikmad suasana pagi. Begitulah kesehariaan mahasiswa Institut Pesantren KH.Abdul Chalim, setelah melaksanakan sholat malam dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning yang dipimpin oleh Kiyai ataupun para gus yang telah diamanahkan bertugas.

Ahad pagi, pada tanggal 13 Oktober 2019, mahasiswa program studi pendidikan bahasa Arab mengadakan kegiatan silaturahmi antar angkatan yang dikemas dalam acara yang bernama MA’RUF (Majelis Ta’aruf), kegiatan ini merupakan sebuah bentuk pengenalan dan pengakraban antara senior dengan junior yang dimana kegiatan ini ingin menghapus stigma negatif yang terbangun dikalangan masyarakat diantaranya penindasan, pemalakan, dan stigma negatif lainnya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjalin rasa kekeluargaan diantara mahasiswa PBA, sesuai dengan slogan PBA yang berbunyi “Al-ittihadu Asaasu An-Najaah (Persatuan adalah Dasar Kesuksesan)”. Agenda MA’RUF sendiri terdiri dari ta’aruf (Pengenalan) antar angkatan, sosialisasi kegiatan HIMARODI PBA, sosialisasi Ukhuwah Arobiyah dan Kemah Bahasa Arab, Kopi Darat terkait sejarah PBA, dan yang terakhir adalah perekrutan panitia MADINAH II. Tiap agenda terlewati dengan penuh canda dan tawa dari semua orang yang hadir ditempat tersebut. Dari sekian banyak agenda, penulis lebih tertarik kepada Kopi Darat yang membahas mengenai sejarah PBA.

Ada apa dengan PBA? kalimat itu yang pertama kali terlintas dipikiran saya ketika agenda KOPDAR dimulai, jelas saja saya terpikirkan kalimat itu, karena yang menjadi pembicaranya adalah Fathy Hisyam Panagara atau yang lebih akrab disapa Bang Sam dalam kesehariannya. Bang Sam sendiri merupakan angkatan 2015 atau angkatan pertama dari prodi PBA, “Kami merintis HIMAPRODI karena didasari akan keresahan kami sebagai mahasiswa” kata bang Sam dengan pembawaannya yang santai dengan sedikit guyonan khasnya sontak memecah tawa diruangan tersebut. “Awal – awal kami merintis HIMAPRODI tidaklah mudah, menurut kami memahamkan teman se-angkatan itu lebih sulit dari pada memahamkan junior, beban perasaan karena seangkatan dan ditambah posisi kami sebagai pendatang di tanah jawa karena dominannya kami berasal dari luar pulau Jawa” ujar Bang Sam sambil menyeruput kopi hitam yang di depannya.

Pesan yang selalu dikuatkan oleh bang Sam dalam kesempatan kali ini adalah slogan PBA yaitu “Al-Ittihadu Asaasu An-Najaah” beliau berharap angkatan yang dibawahnya memahami dengan benar apa yang dimaksudkan dalam slogan tersebut. Landasan yang dibangun oleh angkatan pertam dan semangat juang mereka diharapkan dapat terus ada didalam dada – dada generasi PBA berikutnya. Diakhir obrolan santai kami, bang Sam memberikan salah satu pepatah Arab yang berbunyi “تعلم فليس المرء يولد عالما” yang berarti “Belajarlah karena manusia tidak dilahirkan dalam keadaan pandai”.

Penulis : Ismail Antu (Mahasiswa PBA IKHAC Semester 5)

MA’RUF – Majelis Ta’aruf PBA IKHAC

“Majelis Ta’aruf PBA IKHAC”
Karya: Muh Efendi Labay

Megah pagi menyambut dengan meriah
Kesenangan dan keceriaan melengkapi wajah
Yang selalu ingin tertawa “hahahah”
Dalam suka maupun duka penuh titah

Dari dinasti intelektual yang berdiri gagah
Di pelosok desa nan indah
Yang ditemani hikmah dan berkah
Dari seorang kyai dinasti Amanatul Ummah

Tiga serigala datang menghampiri kita
Dari arah yang tidak diduga-duga
Dengan membawa coretan penuh rahasia
Sengaja, biar menjadi suatu yang luar biasa

Inilah saatnya Bhineka Tunggal Ika
Memupuk solidaritas kita semua
Dari ta’aruf dan sosialisasi HIMA
Sampai merajut sejarah HIMA-Prodi PBA IKHAC di Nusantara

IKHAC, Pacet, Mojokerto, 13 Oktober 2019

Salam IKHAC di tanah Gus Dur

Salam IKHAC di tanah Gus Dur

Fajar mulai mengintip disela – sela bangunan indah Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, kicauan burung di pagi hari semakin menambah syahdu suasana, kampus yang terhubung dengan pondok pesantren Tebuireng ini memang membawa nuansa tersendiri bagi yang mengunjunginya. Nampak segerombolan mahasiswa lengkap dengan almet kampus mereka, mulai menyusuri setiap sudut bangunan di Universitas Hasyim Asy’ari, ada yang sedang duduk – duduk santai saja, ada juga yang lagi sibuk ber-selfie ria di depan museum Gus Dur. Berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai macam kampus di Universitas Hasyim Asy’ari ini, tidaklah untuk melakukan demonstrasi ataupun tawuran antar kampus, melainkan untuk menghadiri kegiatan Musyawarah Wilayah yang dilaksanakan oleh salah satu organisasi ekstra yaitu ITHLA (Ittihadu at-thulabah al-lughoh al-Arobiyah).

Apa sih ITHLA itu? ITHLA merupakan suatu lembaga yang menaungi himpunan mahasiswa pendidikan bahasa Arab dan sastra Arab. Dalam kegiatan ITHLA kali ini, PBA IKHAC mendelegasikan 11 orang untuk mengikuti musyawarah wilayah ITHLA DPW IV yang berlokasi di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang. Sabtu pagi, tanggal 5 Oktober 2019 seluruh mahasiswa pendidikan bahasa Arab yang telah tergabung kedalam ITHLA DPW IV mulai berkumpul, rangkaian acara yang disusun oleh panitia pelaksana adalah pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan seminar nasional, setelah itu ada IMB (ITHLA Mencari Bakat), laporan pertanggung jawaban kepengurusan ITHLA DPW IV, dan ditutup dengan rihlah ke makam Gus Dur.

Pukul 08.00 peserta Musywil ITHLA DPW IV mulai diarahkan ke aula kampus untuk mengikuti agenda pembukaan Musywil DPW IV, tabuhan terbangan dan lantunan sholawat dari group Habsyi Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, mulai memanjakan telinga para peserta Musywil. Setelah kegiatan ini dibuka dengan resmi, peserta musywil mengikuti seminar nasional terkait kebahasaan. Seminar nasional ini berisi 3 topik utama yaitu ; Cinta akan bahasa Arab, sejarah bahasa Arab, dan terakhir adalah menejemen organisasi di era 4.0. para peserta sangat antusias mengikuti seminar nasional ini, berbagai pertanyaan mulai memenuhi ruangan, karena materi yang disampaikan dan cara penyampaian sangat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh mahasiswa terkhusus mahasiswa pendidikan bahasa Arab.

Pukul 14.00 peserta mulai dikumpulkan perkelompok dan diarahkan untuk mengikuti ITHLA Mencari Bakat, agenda ini merupakan penjaringan minat dan bakat dari ITHLA DPW IV untuk mencari bibit – bibit unggul, dan juga sebagai peningkatan kemampuan berbahasa Arab. Masing – masing mahasiswa PBA IKHAC masuk ke tiap – tiap cabang lomba, mulai dari Khitobah (Pidato), Qiroatul Akhbar (Baca berita), Insya (mengarang), dan Mujadalah (Debat). Setiap cabang lomba berjalan dengan meriah, sorak – sorakan penonton kian beradu sampai memenuhi tempat perlombaan.

Rangkaian acara mulai dari pembukaan sampai IMB berjalan dengan baik, antusias peserta belum padam, karena besok paginya ada rihlah ke Makam Gus Dur. Beberapa mahasiswa PBA IKHAC tidak bisa melanjutkan agenda di hari minggu tersebut, disebabkan ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Banyak hal yang bisa didapat dalam kegiatan Musywil kali ini, diantaranya teman – teman baru, peningkatan skill berbahasa, peningkatan mental, bagi mahasiswa baru ini juga menjadi sebuah batu loncatan untuk mereka dalam meningkatkan kemampuan berbahasa mereka.

Penulis : Ismail Antu ( Mahasiswa Semester 5 PBA IKHAC, Mojokerto)

UNHASY, Jombang, 06 Oktober 2019

Kisah Unik di Pesantren

“MENGHARAP”
Karya: Muh Efendi Labay {Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Institut KH Abdul Chalim}

Kutinggalkan sebentar, entah pergi kemana
Kucari dari sana kesini, tak kutemukan dia
Entah kemana wahai penginjak kerak dunia
Yang selalu memberikan makna yang hampir tiada

Duduk sebentar, sebelum nyaman
Akan selalu kupikirkan
Dia yang selalu menemaniku kemana berjalan
Walaupun diatas kerak kehidupan

Sebelum tidur, tidak lupa juga menyempatkan waktu untuk memikirkan
Dia yang telah lama hilang dihadapan
Yang ditaruh ditempat yang kuanggap aman
Ternyata aman secara fiksi, bahaya secara fakta penuh pesan

Ku bangun sholat malam
Ku selalu berdoa untuk menemukan dia pada malam
Dengan doa yang kuhaturkan
“ Ya Allah, kembalikanlah sandalku”

Pon-Pes. Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, 03 Oktober 2019

Festival Nasional MADINAH II 2020

FENOM

Festival Nasional MADINAH II

2020

         Festival Nasional MADINAH II merupakan terusan kesuksesan dari acara terdahulu yakni, Lomba Khitobah dan MADINAH Se-Jawa Timur  yang diadakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah Institut Pesantren KH. Abdul Chalim. Panitia Festival Nasional MADINAH II kini mengadakan 7 (tujuh) lomba offline dan 3 (tiga) lomba online, yang merupakan refleksi dari menanggapi animo peserta, juri dan pihak lainnya yang begitu semangat untuk berpartisipasi kembali. Lomba kali ini 2x (dua kali) lebih banyak dari MADINAH I 2019. Lomba offline diadakan pada tingkat Se-Jawa dan Bali, sementara lomba online diadakan pada tingkat Nasional.

         Diselenggarakannya festival ini untuk meningkatkan kemampuan analisis peserta, daya rangsang argumentasi yang tanggap dengan fenomena saat ini, pengembangan bakat, kreatifitas dan inovasi dalam memaksimalkan teknologi dan kualitas pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Selain itu dari festival ini juga diharapkan mampu meningkatkan sportivitas, menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Arab dan menghilangkan stigma belajar bahasa Arab itu susah dan tidak bergengsi.

Seminar Pendidikan

Dr. Ahmad Mustofa, M.Pd.I (kanan) Narasumber seminar

21/10/2017) Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) diwaktu yang bersamaan dengan finalnya acara Khitobah juga menyelenggarakan seminar Pendidikan yang bertemakan “Tantangan dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab di Era Modern” yang dinarasumbe

ri oleh Dr.Ahmad Mustofa, M.Pd.I salah satu doktor muda.

Acara yang dinarasumberi oleh teman seperjuangan kaprodi PBA IKHAC ini dibuat untuk para mahasuswa/i IKHAC dan guru atau pendamping dari peserta yang ikut serta acara khitobah yang diadakan secara bersamaan, acara ini juga dibuka untuk umum, dan acara seminar kali ini berjalan dengan lancar